Inverse-U Relationship: a reflection

Dalam hidup, kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Untuk setiap pilihan ada “harga” yang kita bayar. Manusia sebagai mahluk ekonomi memiliki perhitungan sedemikian sehingga tidak membayar terlalu mahal untuk sebuah keputusan. Itu pasti. Rugi? Siapa sih yang mau rugi. Hidup itu tidak seindah rumus dengan asumsi ekonomi ceteris paribus. Setiap harinya ada beragam pilihan, ada beragam risiko, dan semuanya melalui proses berpikir. Bahkan, ketika kita tidak menyadari bahwa kita berpikir.

There’s no free lunch.

Yap. Itu adalah kalimat yang paling saya ingat ketika mepelajari ekonomi mikro. Merangkum kesepuluh prinsip ekonomi yang dikemukan Mankiw. Sepuluh prinsip tersebut menurut saya sangat luar biasa dan mencerminkan perilaku ekonomi seseorang. Kembali ke makan siang gratis yang ternyata harus kita bayar, itulah pilihan. Pilihan yang kita buat tanpa kita sadari menunjukan orang seperti apa kita. Itulah mengapa setiap pilihan itu harus dipertimbangkan dengan baik.

Kita semua tahu, ada hal-hal yang mendorong pertimbangan kita, yang mengendalikan setiap keputusan kita. Para ekonom menyebutnya insentif. People respond to incentive. Selalu ada dorongan dari dalam diri untuk memperoleh yang terbaik. Dalam dunia yang penuh penawaran, banyak hal yang harus ditimbang. Lalu timbangan yang seperti apa?
Hari ini saya membaca artikel pertama dari “The Upside of Irrationality”. Paying more for less. Erat kaitannya dengan insentif. Insentif dari prespektif lain yang sangat menggugah. Singkat cerita, pada artikel pertama yang saya baca, dapat saya simpulkan bahwa ada baiknya segala sesuatu itu pas. Cukup. Pada porsinya. Berikanlah kami, pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Mungkin terlalu general. Terlalu jelas, terlalu umum (but, I feel like every reiteration is worth it). Pertanyaannya, mengapa insentif yang besar tidak selamanya bekerja.
Diceritakan dalam artikel tersebut bahwa, beberapa abad lalu, para Psikolog melakukan studi dengan menggunakan tikus percobaan. Seekor tikus dalam waktu tertentu ditempatkan dalam wadah yang aman. Lalu, percobaan dilakukan dengan memindahkan tikus dari zona aman ke wadah yang tidak sama setiap harinya. Terdapat pula wadah yang diberi jebakan berupa sengatan listrik pada jalur bermain si Tikus. Tikus yang semula tidak menyadari, lama kelamaan mulai merasa ada ancaman dari sekitar, hal tersebut kemudian mendorong si Tikus untuk bergerak lebih cekatan. Dapat disimpulkan bahwa intensitas dari sengatan listrik atau zona nyaman yang mulai tidak nyaman akan mendorong si Tikus untuk survive dengan menyesuaikan diri lebih cepat.

Kesimpulan instan yang biasanya kita ambil ialah bagwa terdapat hubungan antara besarnya insentif dengan kemampuan untuk menghasilkan performa terbaik. Hal tersebut sangat masuk akal. Dalam kehidupan nyata, insentif mendorong kita untuk memutuskan sesuatu, berbuat sesuatu yang lebih, mendorong kita untuk mendedikasikan suatu yang lebih. Di dunia kerja, misalnya, bonus diberikan agar para kerja terdorong untuk memberikan performa yang terbaik. Hal tersebut benar adanya. Bahwa setiap pekerja baiknya diberikan insentif yang mendorong pekerja tersebut untuk bekerja lebih baik.

Hal yang menarik ialah ketika dengan insentif yang begitu besar, hasil yang didapat ialah performa yang buruk? Hal tersebut bukan sesuatu yang tidak mungkin. Hal tersebut mungkin saja terjadi. Pada titik tertentu, pekerja akan terdistraksi dengan bonus yang diberikan. Lalu fokus menjadi berubah, orientasi bukan lagi performa yang baik tetapi insentif yang besar. Untuk ilustrasi si Tikus, bukan tidak mungkin Tikus yang dari waktu ke waktu dihadapkan dengan kondisi lingkungan yang berubah-ubah dan sengatan listrik mengalami perubahan orientasi. Si Tikus lalu tidak fokus terhadap hal-hal lain kecuali berpikir bagaimana menghadapi atau menghindar dari gangguan sengatan listrik. Insentif yang rendah menyebabkan performa yang tidak begitu tinggi, medium insentif akan mendorong pekerja untuk mempertimbangkan perlunya bekerja untuk performa yang lebih baik. Insentif yang terlalu tinggi, sekali lagi- terlalu tinggi, akan menjadikan pekerja over motivated. Inverse-U Relationship.
Bekerja itu baik. Memperoleh insentif untuk hasil kerja itu baik. Itu berarti kita dihargai. Bagaimana supaya insentif itu tetap pada titik optimal dan tidak menimbulkan diminishing? Merasa cukup itu perlu. Dengan bersyukur, dengan beterima kasih, dengan berbagi kasih. Ceteris Paribus itu tidak berlaku, dan dengan dunia yang penuh error yang “menarik”, pertimbangkanlah semuanya, pertimbangkan pekerjaan dengan waktu bersama keluarga, bersama teman dan orang-orang yang kita kasihi. Jangan sampai timbangan menjadi berat sebelah, dan harga yang kita bayar terlalu mahal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s