Ruteng dan Drumband

Kau tahu, salah satu hal yang menarik jika kau menghabiskan masa sekolahmu di Ruteng, Flores adalah masa-masa kejayaan selama SMA. Masa putih abu-abu itu entah kenapa selalu dikenang. Melakukan segala kegilaan saat kau berseragam putih abu-abu itu dimaklumni atau bahkan kebanggaan. Kenapa? Karena itulah yang akan kau ceritakan pada anak cucumu. Dengan nada yang menyakinkan, kau akan bilang “Dulu waktu Mama/Papa masih SMA..”

Nah, menjadi anak SMA di Ruteng itu sesuatu yang cool. Bahkan ketika kau berakhir di kota besar, atau berakhir di Ruteng sekalipun, menjadi anak SMA di Ruteng adalah pengalaman yang berharga. Memang pada umumnya masa SMA dimana saja itu indah. Indah karena kita berada diwaktu dengan rentang usia yang sama. Melepas pubertas dan berusaha dewasa.

Ruteng bukan kota yang besar. Kau mengenal bukan hanya tetangga rumah, tetangga RT bahkan tetangga beda kelurahan juga kau kenal. Lalu, di Ruteng itu semua bersaudara. Tidak sedarah tetapi tetap bersaudara. Makanya, kau harus bersyukur ketika mendapatkan pasangan hidup sesama orang Ruteng atau orang manggarai pada umumnya.  Ketika mendapat pasangan orang manggarai artinya bukan karena kalian tidak berkeluarga, tetapi kalian berkeluarga sekian lapis. Setelah turuk empo (menelisik silsilah nenek moyang) kalian dinyatakan tidak berkeluarga dekat. Tidak keluarga dekat tetap keluarga kan, ya?

Melewatkan masa SMA di Ruteng itu menyenangkan karena problemmu hanya sebatas PR Matematika atau Fisika dan mungkin Kimia. Kau tidak akan mengalami keterlambatan karena alasan macet. Keterlambatan semata-mata karena kebiasaan menunda. Berjalan kaki di Ruteng menyenangkan. Walaupun akhirnya kau menyadari bahwa suhu panas di daerah dataran tinggi itu akan membuat kulitmu kucel. Kau akan menyadari setelah kau mengecap air ibu kota. Ah, pengalaman pribadi.

Persaingan antarsiswa ada. Dimana-mana memang ada. Namanya juga anak SMA. Tetapi kalau di Ruteng tentu beda. Persaingan terkadang hal-hal yang tidak perlu disaing-saingkan. Ada banyak. Tetapi tentang drumband dan masa SMA mempunyai cerita lain.

Hal yang menarik ialah di Ruteng kau bisa menikmati  pawai pembangunan yang oleh Pemda biasa diadakan pada peringatan kemerdekaan RI atau pada Hari Pendidikan Nasional. Di Ruteng, sebagai anak SMA, menjadi anggota drumband merupakan hal yang prestige. Ketika kau menjadi anggota drumband, saat pawai, kau percaya bahwa semua mata tertuju padamu. Lalu, drum berat yang kau pikul sekian kilo meter itu, tidak lagi menjadi masalah, atau panas matahari yang menyengat, atau kulit yang mulai belang akibat latihan drumband, itu tidak menjadi masalah. Terkadang kau akan berterima kasih ketika kelas berlangsung dan ada teman-teman yang memanggilmu untuk latihan drumband. Apalagi ketika panggilan membahagiakan itu datang pada saat pelajaran matematika atau fisika.

Persaingan dalam dunia drumband juga terjadi. Di kota kecil itu, ketenaran drumband sekolahmu itu merupakan sesuatu yang harus dipertahankan. Terkadang setiap angkatan menciptakan ketukan/pukulan yang menjadi ciri khas. Tapi, apakah kamu tahu bahwa ternyata terdapat pukulan yang merupakan pukulan standar drumband seluruh dunia. Saya juga baru mengetahuinya. Singkat cerita, ponakan saya sedang berlatih drumband, lalu Ibunya yang berasal dari Sumatera mengajarkan pukulan yang sangat tidak asing. Reaksi saya saat itu hanya ” Kok, kakak tahu ketukan itu?“. Saya tidak habis pikir, usia saya dan kakak saya saja terpaut hampir lebih dari 15 tahun.  Celetukan kakak saya cukup menggelitik ” Ah! standar itu, ketukan itu dimana-mana sama.Well, sebagai anggota drumband SMA-mu, kau harus menjaga agar ketukan atau pukulan drumband-mu itu jangan sampai di contek sama anggota drumband SMA lain.

Tentunya selain ketukan, seragam dan penampilan lain juga berpengaruh. Termasuk Mayoret yang cantik. Mayoret yang cantik ini penting. Karena selain kau percaya bahwa seribu mata memandangmu. Hal yang pasti adalah seribu mata itu akan lebih memandang mayoret yang cantik dibandingkan mendengarkan pukulanmu. Ikut dalam drumband itu sebuah kebanggaan. Entah saat usiamu menginjak 20-an (lebih banyak) kau mungkin merasa geli dengan hal itu. Tetapi, saat SMA itu adalah kebanggaan. Mengikuti pawai membuat kau merasa keren.  Dan berbagai “kegilaan” lain kau alami. Semuanya menarik. Apalagi kalau itu di Ruteng.

Menjadi anak SMA di Ruteng walaupun menyenangkan tidaklah mudah. Di kota kecil itu, bukan tidak mungkin semua orang mengenalmu. Mengenal orang tuamu. Tentunya semua tindak tandukmu akan sangat berkaitan dengan reputasi. Ah, ini dia. Kota kecil dengan risiko reputasi yang merupakan risiko inheren. Apapun itu,  saya percaya, masa SMA di Ruteng itu bikin bahagia. Kau juga, kan?

Selamat menikmati pawai pembangunan.

 

2 thoughts on “Ruteng dan Drumband

  1. ajenangelinaa says:

    Wakakakakakkakaka
    Iya sa baru sadar kita pas SMA kuat bersaing yang tidak pentingg
    Dan memang e Naa Ruteng selalu bikin kangen..
    Oh iya banyak ju yang cinta kandas di Nunduk hahah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s