Daud

Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!

Mazmur 51:12

Jerry Gatum

verba manent

Pada kisah Daud kita menemukan misteri panggilan yang tak utuh terperikan. Di awal kisah, Daud bukanlah andalan manusia, yang cenderung memilih berdasarkan preferensi terhadap kualifikasi tertentu. Paling kurang, Samuel, sang nabi itu, sama sekali tidak pernah menduga bahwa dari kedelapan putra Isai Daud bakal menjadi pilihan Allah yang kemudian ia urapi.

Bila pilihan manusia pertama-tama berangkat dari penampakan lahiriah, atau “apa yang di depan mata” (1 Sam 16:7), pilihan Allah justru terletak pada “hati”. Karena itu, tidaklah mengherankan bila kesaksian biblis mencatat bahwa Daud adalah satu-satunya tokoh dalam Kitab Suci yang disebut sebagai “seorang yang berkenan di hati Allah” (1 Sam 13:14; Kis 13:22).

Namun, mungkinkah hati itu selalu bisa diandalkan? Mungkinkah hati bisa menjadi fakultas intrinsik yang konstan, tidak berubah dan selalu terarah pada kehendak ilahi? Samuel mungkin tidak sempat memikirkan pertanyaan-pertanyaan tersebut pada hari ia bertandang ke Bethlehem. Namun, dalam perjalanan waktu, kita akhirnya toh tahu bahwa…

View original post 834 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s